PERAMALAN NILAI TUKAR: TEKNIK-TEKNIK PERAMALAN
PERAMALAN NILAI TUKAR
TEKNIK-TEKNIK
PERAMALAN
1.
Peramalan
Teknis (Technical Forcasting)
Merupakan
peramalan yang diidasarkan pada harga atau tren historis. Dan ada juga beberapa
model time series yang mengukur
rata-rata bergerak. Peramalan teknis untuk nilai tukar serupa dengan peramalan
teknis untuk harga saham. Jika pola pergerakan nilai tukar sepanjang waktu
kelihatan acak, maka peramalan teknis tidak tepat. Kecuali kalau tren historis
dalam pergerakan nilai tukar dapat diidentifikasi, pengkajian atas pergerakan
masa lalu tidak akan bermanfaat untuk memprediksi pergerakan di masa depan.
Dari
perspektif korporasi, pemakaian peramalan teknik mungkin terbatas karena
peramalan teknis biasanya berfokus pada estimasi jangka pendek, yang tidak
berguna dalam mengembangkan kebijakan-kebijakan korporasi. Selain itu,
peramalan teknis jarang menghasilkan point estimate maupun range estimate,
seperti yang dikemukakan oleh Goodman. Sehingga dapat dikatakan peramalan ini
tidak memadai untuk MNC.
2.
Peramalan
Fundamental
Didasarkan
pada hubungan fundamental antara variabel-variabel ekonomi dengan nilai tukar.
Jika nilai berjalan dari variabel-variabel ekonomi ini serta dampak historisnya
atas nilai valuta diketahui, korporasi-korporasi dapat membuat proyeksi nilai
tukar.
Contoh Peramalan
Fundamental
Anggaplah bahwa tujuan
dari korporasi adalah untuk memprediksi presentase perubahan (laju apresiasi
atau depresiasi) pound Inggris dalam hubungannya dengan dolar AS selama kuartal
mendatang. Asumsikan terdapat 2 faktor yang mempengaruhi:
1. Inflasi
di AS relative terhadap inflasi di Inggris
2. Pertumbuhan
pendapatan di AS relative terhadap pertumbuhan pendapatan di Inggris (dalam
persentase).
Langkah
pertama adalah menentukan bagaimana keduanya mempengaruhi nilai pound dimasa
lalu berdasarkan data historis. Hal ini bisa dilakukan dengan analisa regresi.
Variabel
dependennya adalah persentase perubahan kuartalan dari pound inggris (atau BP).
Dan variabel independennya adalah:
1. Persentase
perubahan kuartalan periode sebelumnya dalam selisih inflasi (inflasi AS kurang
inflasi Inggris), atau INF.
2. Persentase
perubahan kuartalan periode sebelumnya dalam selisih pertumbuhan pendapatan
(pertumbuhan pendapatan AS kurang pertumbuhan pendapatan Inggris), atau INC.
Persamaan
regresi yang muncul adalah :
BP = b0
+ b1 INF + b2 INC + µ1
Setelah analisis yang dipakai
menghasilkan nilai dari semua koefisien, koefisien-koefisien ini dapat
digunakan untuk melakukan prediksi. Sebagai ilustrasi, asumsikan bahwa analisis
regresi menghasilkan nilai-nilai berikut : b0
= 0,002, b1 = 0,8,
dan b2 = 1,0. Koefisien-koefisien ini dapat
diinterpretasikan sebagai berikut. Untuk setiap unit perubahan dalam selisih inflasi,
pound diharapkan berubah 0,8% dalam arah yang sama, ceteris paribus. Untuk setiap unit perubahan dalam selisih
pertumbuhan pendapatan, pound diharapkan berubah 1% dalam arah yang sama, ceteris paribus. Untuk melakukan
prediksi, asumsikanlagi bahwa, selama kuartal terakhir, persentase perubahan
INF adalah 4%, dan INC 2%. Dengan menggunakan informasi ini beserta koefisien
regresi sebelumnya, maka besarnya perubahan nilai pound (BP) adalah:
BP = b0
+ b1 INF + b2 INC
= 0,002 + 0,8 (4%) + 1(2%)
= 5,4%
Jadi, berdasarkan angka inflasi dan
pertumbuhan pendapatan pada kuartal terakhir, pound diharapkan mengalami
apresiasi 5,4% selama kuartal berikutnya.
Penggunaan Analisis Sensitivitas
bagi Peramalan Fundamental
Analysis
sensitivitas merupakan teknik yang digunakan untuk menilai ketidakpastian,
dimana berbagai kemungkinan untuk menentukan outcome- outcome yang mungkin.
Perusahaan-perusahaan
mengakui bahwa buruknya prediksi atas faktor-faktor yang tidak diketaui dapat
menyebabkan buruknya estimasi pergerakan nilai tukar yang dihasilkan, sehingga
mereka mungkin berupaya memperhitungkan ketidakpastian dengan menggunakan
analisis sensitivitas, di mana lebih dari satu hasil (outcome) dipertimbangkan
bagi faktor-faktor yang mengandung ketidakpastian.
Untuk
mengilustrasikannya, asumsikan bahwa Phoenix Corp. membuat model regresi untuk
memprediksi persentase perubahan nilai mark Jerman. Yaitu sebagai berikut:
et
=
a0 + a1 INTt + a2
INFt-1 + µ
Di mana:
et
=
persentase perubahan dalam nilai tukar selama periode t
INTt = selisih suku bunga riil selama
periode t
INFt-1 =
selisih inflasi selama periode t-1
a0, a1, a2 =
koefisien regresi
µ =
error term
Asumsikan bahwa
analisis regresi telah memberikan
estimasi koefisien regresi berikut:
Koefisen
regresi
|
Estimasi
|
a0
|
0,001
|
a1
|
-0,7
|
a2
|
0,6
|
Asumsikan juga bahwa Phoenix Corp. telah membuat
distribusi probabilitas berikut bagi INTt:
Probabilitas
|
Hasil
|
20%
|
-3%
|
50%
|
-4%
|
30%
|
-5%
|
100%
|
Dengan demikian, peramalan et dapat
dilakukan dengan menggunakan masing-masing outcome yang mungkin dari INTt, yaitu:
Outcome
INT
|
Proyeksi nilai et
|
Probabilitas
|
-3%
|
2,8%
|
20%
|
-4%
|
3,5%
|
50%
|
-5%
|
4,2%
|
30%
|
Pemakaian PPP bagi peramalan fundamental
Ingat bahwa teori paritas daya beli
(purchasing power parity – PPP) menjelaskan hubungan fundamental antara selisih
inflasi dengan nilai tukar. Dalam pemahaman yang sederhana, PPP menyatakan
bahwa valuta dari Negara yang memiliki inflasi relative lebih tinggi akan
mengalami depresiasi dengan persentase yang sama dengan selisih inflasi.
Seandainya teori ini akurat dalam realitas, tidak ada kebutuhan akan
teknik-teknik peramalan lain. Namun, pemakaian selisih inflasi dari dua Negara
untuk meramalkan nilai tukar tidak selalu akurat. Ketidakakuratan muncul karena
(1) sulitnya menentukan timing dari dampak inflasi atas pola perdagangan dan,
dengan demikian, atas nilai tukar, (2) data-data yang digunakan untuk mengukur
indeks harga relative dari dua Negara mungkin kurang akurat, (3) proteksi
perdagangan bisa mengganggu pola perdagangan yang seharusnya muncul seperti
yang disiratkan oleh teori PPP, dan (4) faktor-faktor lain, seperti selisih
suku bunga antar Negara, juga dapat mempengaruhi nilai tukar.
Keterbatasan-keterbatasan dari peramalan fundamental
a. Tidak
pastinya timing dari dampak yang diperkirakan akan muncul
b. Diperlukan
prediksi bagi faktor-faktor yang memiliki dampak langsung
c. Tidak
dilibatkannya faktor-faktor relevan lain dalam model
d. Berubahnya
sensitivitas pergerakan valuta atas tiap faktor setiap saat.
3.
Peramalan
Berbasis Pasar
Proses
pengembangan proyeksi dari indicator-indikator pasar, yang dikenal dengan
peramalan berbasis pasar, biasanya didasarkan pada:
1. Pemakaian
kurs spot
Korporasi-korporasi
dapat menggunakan kurs spot untuk melakukan peramalan, karena kurs spot
mencerminkan ekspektasi pasar mengenai nilai kurs spot dalam beberapa saat ke
depan.
2. Pemakaian
kurs forward
Kurs
forward bisa berfungsi sebagai basis peramalan, karena kurs forward
mencerminkan ekspektasi pasar menyangkut kurs spot pada akhir horizon forward.
Peramalan
jangka panjang memakai kurs forward
Meskipun kurs forward
berjangka 2 hingga 5 tahun juga ada, kurs forward semacam ini jarang
dikuotasikan. Namun, suku bunga dari instrument-instrumen bebas risiko dari berbagai
Negara dapat digunakan untuk menentukan nilai kurs forward dalam kondisi
paritas suku bunga. Sebagai contoh, asumsikan bahwa suku bunga berjangka waktu
5 tahun di AS adalah 10% setahun, sementara suku bunga untuk jangka waktu yang
sama di Inggris adalah 13 %. Pengembalian majemuk (compounded return) untuk jangka waktu 5 tahun dari investasi yang
dilakukan di AS dan Inggris masing-masing adalah:
Negara
|
Pengembalian Majemuk 5 Tahun
|
USA
|
(1,10)5
– 1 = 61%
|
UK
|
(1,13)5
– 1 = 84%
|
Jadi, premium (diskon) forward 5 tahun dari pound
Inggris yang tepat adalah:
P = -0,125 atau -12,5%
Hasil
perhitungan kita menyiratkan bahwa kurs forward 5 tahun dari pound harus
mengandung diskon 12,5%. Yaitu kurs spot pound diharapkan akan mengalami
depresiasi 12,5% dalam waktu 5 tahun ke depan.
4.
Peramalan
Campuran
Karena tidak satupun teknik peramalan
menghasilkan prediksi yang selalu lebih baik dari oada teknik lain, sejumlah
perusahaan multinasional lebih suka menggunakan model peramalan gabungan/campuran
(mixed forcasting). Beberapa proyeksi
untuk satu valuta tertentu dapat dikembangkan menggunakan beberapa teknik
peramalan. Masing-masing teknik yang digunakan diberikan bobot dan jumlah bobot
totalnya 100%. Teknik yang dianggap lebih andal mendapat bobot yang lebih
tinggi.
Komentar
Posting Komentar